Keke meninggalkan kelasnya bersama beberapa temannya. Ia merasa kepalanya agak penuh mendengar penjelasan – penjelasan dosen – dosennya. Secara umum ia mengerti maksudnya tapi begitu mendengar teori – teori yang diucapkan ke dalam bahasa Korea, kepalanya terasa melayang. Atau ia yang sedang tidak konsentrasi.
Gawat! Ia adalah mahasiswi beasiswa jadi tidak boleh lengah.
Tapi yang paling disukainya adalah melihat penampilan teman – temannya yang luar biasa dibandingkan dengan dirinya sendiri.
“Hei, Keke ssi, kau ada kerja sambilan hari ini? Mau ikut minum bersama kami?” Tanya salah seorang temannya.
“Hah, apa? Maaf…pergi?” Keke yang setengah melamun kaget ditanya oleh temannya.
“Hei, Keke ssi tidak minum. Kau lupa ya?” sahut Song Eun Young yang paling dekat dengan Keke.
“Oh, maaf aku lupa. Tapi kami akan pergi ke noerabang.”
“Aku memang tidak ada kerja sambilan hari ini tapi aku tidak bisa pergi. Lain kali saja. Maaf ya…”
“Wæ?” Jang Il Woo, pemuda paling keren di angkatan mereka dan juga dekat dengan Keke langsung cemas.
“Aku merasa kurang sehat. Mumpung tidak ada jadwal kerja, aku mau istirahat.” Jelas Keke dalam bahasa Korea yang masih kaku.
“Ah, arasso. Lain kali ikut ya? Menyenangkan bisa menghilangkan stress.”
Keke tersenyum.
“Noona yakin baik – baik saja?” Tanya Il Woo kurang puas.
“Yes, I am. Go ahead. Go!”
“We’ll call you later.” Janji Eun Young.
“Ok.”
Mereka pun berpisah di depan gedung kampus.
Keke memang merasa masih kurang sehat. Jadi ia mau istirahat saja. Sebelumnya ia mau ke apotik dulu beli obat.
Hari itu langit cerah. Enak untuk jalan – jalan atau bersantai di luar rumah sebetulnya. Dengan langkah ringan ia menuju apotik terdekat. Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkannya, tiba – tiba ia ingat pasta gigi dan sabun mandinya habis. Akhirnya sebelum pulang, ia mampir dulu ke sebuah minimarket.
Di dalam minimarket, Keke tak hanya mengambil sabun mandi dan pasta gigi, ia juga mengambil beberapa makanan ringan dan dua botol air mineral. Saat mengantri di kasir, ia melihat sesosok laki – laki muda jangkung sedang membayar beberapa kaleng bir dan beberapa botol soju.
Hmm…mirip laki - laki bernama Joon yang waktu itu deh, pikir Keke dalam hati.
Saat menyerahkan uang ke kasir, laki – laki itu tiba – tiba menoleh ke belakang sekilas, lalu seperti hendak meyakinkan dirinya sendiri untuk memastikan, ia menoleh lagi. “Kehara ssi?!”
“Joon ssi!” memang Joon. Keke meringis. Kebetulan yang hebat.
Setelah mengambil uang kembalian dan mengambil kantong belanjaannya, Joon menepi agar Keke bisa membayar di kasir. Tapi ia tidak pergi. Menunggu.
Begitu Keke selesai membayar belanjaannya, Joon berjalan keluar bersamanya. Tentu saja tubuh jangkung Joon pasti menarik perhatian semua orang yang melihatnya. Apalagi badannya yang cenderung kurus untuk ukuran laki – laki.
“Kau mau kemana?” Tanya Joon.
“Pulang.”
“Dari kuliah? Tidak ada kerja sambilan?”
“Ya, hari ini tidak ada kerja sambilan. Kau darimana atau mau kemana?”
“Ayo kuantar. Aku juga mau pulang. Mobilku kuparkir disana.” Joon menunjuk ke suatu tempat.
“Tidak terlalu jauh kok.” Tolak Keke.
“Searah kok.” Joon ngotot.
“Baiklah.” Daripada berdebat di jalan dan jadi perhatian orang.
“Boleh aku tahu, kau kuliah atau sudah kerja? Dimana?”
Joon menoleh kaget dan agak curiga. “Kau benar – benar tidak tahu aku? Padahal kau kan belajar kecantikan.” Gumamnya. “Lagipula di kartu nama waktu itu juga sudah jelas.”
Keke mendengus. “Apa kau orang terkenal?”
Joon tertawa. “Mungkin.”
Keke terdiam. “Maaf, aku tidak terlalu mengikuti perkembangan Hallyu Stars.”
Joon tersenyum.
Sambil berjalan, Keke masih berpikir. Joon tidak kelihatan seperti seorang hallyu star. Memang semua orang memperhatikannya, itu karena dia sangat jangkung dan wajahnya keren. Penampilannya juga keren. Tapi sejauh ini tak sekalipun ada yang meneriakkan namanya walaupun sambil berbisik apalagi histeris.
“Kau curang!” gerutu Keke. “Kau tahu siapa aku tapi aku tidak tahu tentangmu.”
Joon meringis jahil. Wajah coolnya jadi melembut. “Kalau aku tiba – tiba mengatakannya padamu, aku jadi merasa seperti orang sombong.”
“Alasan apa itu?” cibir Keke.
“Begini saja, besok kau kerja tidak?”
Keke mengangguk. “Ya. Kenapa?”
“Bagus. Besok kau kujemput pulang kerja. Jam yang sama seperti waktu itu kan?”
Keke tertegun mendengarnya. Joon ingin menjemputnya? Serius? “Tidak. Besok aku pulang satu jam lebih cepat.”
“Ok. Besok kujemput. Kalau beruntung aku bisa selesai lebih cepat juga.”
Keke memandangnya ragu.
Joon tersenyum manis tapi sedikit kesal. Ia menghela nafas dalam. “Kau ingin tahu apa pekerjaanku kan? Lagipula seharusnya calon hairdresser atau make up artist sepertimu setidaknya pernah mendengar tentangku.” Tambahnya sambil menggerutu. “Ayo pulang.”
Orang aneh! Memang siapa sih dia?
Akhirnya sampai juga mereka ke tempat dimana Joon memarkir mobilnya. Kali ini Joon tidak membukakan pintu untuk Keke. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman, Joon langsung melarikan mobilnya.
“Hei, Joon—” ujar Keke ragu – ragu.
“Yeah?”
“Kau yakin kau ini kerja?” Keke tak bermaksud kurang ajar. Ia tahu ada beberapa pekerjaan yang tidak membutuhkan rutinitas waktu.
Joon melirik Keke tak percaya. “Bolehkah kukatakan itu adalah pertanyaan bodoh?”
“Kurasa memang pertanyaan bodoh.”
Joon terkikik geli. “Tapi ya, aku baru pulang kerja. Berapa sih umurmu kalau boleh tahu?”
“Wæ?”
“Kadang kau seperti orang dewasa, kadang masih seperti anak – anak. Bukan penampilan yang kumaksud.”
Keke tak bisa menahan senyum lebarnya. “Coba tebak?”
“25.”
“Wow!” sahut Keke takjub. “Aku bahagia sekali mendengarnya.”
“No?”
“Nope!”
“Tidak mungkin sama dengan umurku.”
“27?”
“Tahu darimana?”
“Menebak saja.”
Joon melirik curiga. “Dari caramu menyebut 27, sepertinya lebih dari itu. Aku tidak percaya harus memanggilmu noona.”
Keke menoleh ke arah Joon dan memamerkan senyum termanisnya. “Percayalah. Aku sudah berusia tiga puluh tahun.”
“Muô?!” Joon nyaris tergelincir, untung bisa kembali fokus. Ia menunjuk Keke dengan tidak sopan. “Aku tidak tahu harus kagum atau terkejut.”
“Jangan membandingkan tinggi badan.” Dengus Keke sambil melotot. “Kau yang terlalu jangkung. Aku sedikit terlalu mungil. Tapi tidak pendek. Kecil…ya, baiklah. Kuakui tubuhku kecil.”
Joon langsung tertawa terbahak – bahak. “Mungkin kau benar, n-o-o-n-a!”
Karena apartemen memang tidak terlalu jauh, tahu – tahu mobil sudah berhenti. Keke keluar setelah mengucapkan terima kasih. Joon juga kembali meyakinkannya bahwa ia sungguh – sungguh akan menjemputnya sepulang kerja.
***