Jumat, 25 September 2015

NOVEL : KEHARA & JOON, Bab Satu

Keke meninggalkan kelasnya bersama beberapa temannya. Ia merasa kepalanya agak penuh mendengar penjelasan – penjelasan dosen – dosennya. Secara umum ia mengerti maksudnya tapi begitu mendengar teori – teori yang diucapkan ke dalam bahasa Korea, kepalanya terasa melayang. Atau ia yang sedang tidak konsentrasi.

Gawat! Ia adalah mahasiswi beasiswa jadi tidak boleh lengah.

Tapi yang paling disukainya adalah melihat penampilan teman – temannya yang luar biasa dibandingkan dengan dirinya sendiri.

“Hei, Keke ssi, kau ada kerja sambilan hari ini? Mau ikut minum bersama kami?” Tanya salah seorang temannya.

“Hah, apa? Maaf…pergi?” Keke yang setengah melamun kaget ditanya oleh temannya.

“Hei, Keke ssi tidak minum. Kau lupa ya?” sahut Song Eun Young yang paling dekat dengan Keke.

“Oh, maaf aku lupa. Tapi kami akan pergi ke noerabang.”

“Aku memang tidak ada kerja sambilan hari ini tapi aku tidak bisa pergi. Lain kali saja. Maaf ya…”   

“Wæ?” Jang Il Woo, pemuda paling keren di angkatan mereka dan juga dekat dengan Keke langsung cemas.

“Aku merasa kurang sehat. Mumpung tidak ada jadwal kerja, aku mau istirahat.” Jelas Keke dalam bahasa Korea yang masih kaku.

“Ah, arasso. Lain kali ikut ya? Menyenangkan bisa menghilangkan stress.”

Keke tersenyum.

“Noona yakin baik – baik saja?” Tanya Il Woo kurang puas.

“Yes, I am. Go ahead. Go!”

“We’ll call you later.” Janji Eun Young.

“Ok.”

Mereka pun berpisah di depan gedung kampus.

Keke memang merasa masih kurang sehat. Jadi ia mau istirahat saja. Sebelumnya ia mau ke apotik dulu beli obat.

Hari itu langit cerah. Enak untuk jalan – jalan atau bersantai di luar rumah sebetulnya. Dengan langkah ringan ia menuju apotik terdekat. Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkannya, tiba – tiba ia ingat pasta gigi dan sabun mandinya habis. Akhirnya sebelum pulang, ia mampir dulu ke sebuah minimarket.

Di dalam minimarket, Keke tak hanya mengambil sabun mandi dan pasta gigi, ia juga mengambil beberapa makanan ringan dan dua botol air mineral. Saat mengantri di kasir, ia melihat sesosok laki – laki muda jangkung sedang membayar beberapa kaleng bir dan beberapa botol soju.

Hmm…mirip laki - laki bernama Joon yang waktu itu deh, pikir Keke dalam hati.

Saat menyerahkan uang ke kasir, laki – laki itu tiba – tiba menoleh ke belakang sekilas, lalu seperti hendak meyakinkan dirinya sendiri untuk memastikan, ia menoleh lagi. “Kehara ssi?!”

“Joon ssi!” memang Joon. Keke meringis. Kebetulan yang hebat.

Setelah mengambil uang kembalian dan mengambil kantong belanjaannya, Joon menepi agar Keke bisa membayar di kasir. Tapi ia tidak pergi. Menunggu.

Begitu Keke selesai membayar belanjaannya, Joon berjalan keluar bersamanya. Tentu saja tubuh jangkung Joon pasti menarik perhatian semua orang yang melihatnya. Apalagi badannya yang cenderung kurus untuk ukuran laki – laki.

“Kau mau kemana?” Tanya Joon.

“Pulang.”

“Dari kuliah? Tidak ada kerja sambilan?”

“Ya, hari ini tidak ada kerja sambilan. Kau darimana atau mau kemana?”

“Ayo kuantar. Aku juga mau pulang. Mobilku kuparkir disana.” Joon menunjuk ke suatu tempat.

“Tidak terlalu jauh kok.” Tolak Keke.

“Searah kok.” Joon ngotot.

“Baiklah.” Daripada berdebat di jalan dan jadi perhatian orang.

“Boleh aku tahu, kau kuliah atau sudah kerja? Dimana?”

Joon menoleh kaget dan agak curiga. “Kau benar – benar tidak tahu aku? Padahal kau kan belajar kecantikan.” Gumamnya. “Lagipula di kartu nama waktu itu juga sudah jelas.”

Keke mendengus. “Apa kau orang terkenal?”

Joon tertawa. “Mungkin.”

Keke terdiam. “Maaf, aku tidak terlalu mengikuti perkembangan Hallyu Stars.”

Joon tersenyum.

Sambil berjalan, Keke masih berpikir. Joon tidak kelihatan seperti seorang hallyu star. Memang semua orang memperhatikannya, itu karena dia sangat jangkung dan wajahnya keren. Penampilannya juga keren. Tapi sejauh ini tak sekalipun ada yang meneriakkan namanya walaupun sambil berbisik apalagi histeris.

“Kau curang!” gerutu Keke. “Kau tahu siapa aku tapi aku tidak tahu tentangmu.”

Joon meringis jahil. Wajah coolnya jadi melembut. “Kalau aku tiba – tiba mengatakannya padamu, aku jadi merasa seperti orang sombong.”

“Alasan apa itu?” cibir Keke.

“Begini saja, besok kau kerja tidak?”

Keke mengangguk. “Ya. Kenapa?”

“Bagus. Besok kau kujemput pulang kerja. Jam yang sama seperti waktu itu kan?”

Keke tertegun mendengarnya. Joon ingin menjemputnya? Serius? “Tidak. Besok aku pulang satu jam lebih cepat.”

“Ok. Besok kujemput. Kalau beruntung aku bisa selesai lebih cepat juga.”

Keke memandangnya ragu.

Joon tersenyum manis tapi sedikit kesal. Ia menghela nafas dalam. “Kau ingin tahu apa pekerjaanku kan? Lagipula seharusnya calon hairdresser atau make up artist sepertimu setidaknya pernah mendengar tentangku.” Tambahnya sambil menggerutu. “Ayo pulang.”

Orang aneh! Memang siapa sih dia?

Akhirnya sampai juga mereka ke tempat dimana Joon memarkir mobilnya. Kali ini Joon tidak membukakan pintu untuk Keke. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman, Joon langsung melarikan mobilnya.

“Hei, Joon—” ujar Keke ragu – ragu.

“Yeah?”

“Kau yakin kau ini kerja?” Keke tak bermaksud kurang ajar. Ia tahu ada beberapa pekerjaan yang tidak membutuhkan rutinitas waktu.

Joon melirik Keke tak percaya. “Bolehkah kukatakan itu adalah pertanyaan bodoh?”

“Kurasa memang pertanyaan bodoh.”

Joon terkikik geli. “Tapi ya, aku baru pulang kerja. Berapa sih umurmu kalau boleh tahu?”

“Wæ?”

“Kadang kau seperti orang dewasa, kadang masih seperti anak – anak. Bukan penampilan yang kumaksud.”

Keke tak bisa menahan senyum lebarnya. “Coba tebak?”

“25.”

“Wow!” sahut Keke takjub. “Aku bahagia sekali mendengarnya.”

“No?”

“Nope!”

“Tidak mungkin sama dengan umurku.”

“27?”

“Tahu darimana?”

“Menebak saja.”

Joon melirik curiga. “Dari caramu menyebut 27, sepertinya lebih dari itu. Aku tidak percaya harus memanggilmu noona.”

Keke menoleh ke arah Joon dan memamerkan senyum termanisnya. “Percayalah. Aku sudah berusia tiga puluh tahun.”

“Muô?!” Joon nyaris tergelincir, untung bisa kembali fokus. Ia menunjuk Keke dengan tidak sopan. “Aku tidak tahu harus kagum atau terkejut.”

“Jangan membandingkan tinggi badan.” Dengus Keke sambil melotot. “Kau yang terlalu jangkung. Aku sedikit terlalu mungil. Tapi tidak pendek. Kecil…ya, baiklah. Kuakui tubuhku kecil.”

Joon langsung tertawa terbahak – bahak. “Mungkin kau benar, n-o-o-n-a!”

Karena apartemen memang tidak terlalu jauh, tahu – tahu mobil sudah berhenti. Keke keluar setelah mengucapkan terima kasih. Joon juga kembali meyakinkannya bahwa ia sungguh – sungguh akan menjemputnya sepulang kerja.

***

Kamis, 24 September 2015

NOVEL: KEHARA & JOON, Prolog (lanjutan)


Di sudut lain kota, Kehara Hastiwi tengah berkutat dengan kesibukannya bekerja di sebuah restoran. Tugasnya hanya di dapur mencuci piring, buang sampah atau membantu yang lainnya. Bukan hal yang mudah tapi ia bersyukur masih bisa mendapatkan tambahan uang saku.

Saat ini sudah memasuki tahun kedua Keke di Korea Selatan untuk melanjutkan sekolah kecantikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan setelah melewati semester pertama dengan baik, ia sudah bisa mengambil kerja sambilan di semester dua.

Ia melirik jam yang ada di dinding. Setengah jam lagi restoran tutup. Setengah jam lagi ia bisa pulang. Malam ini ia merasa lumayan capek karena pengunjung restoran sedang banyak sekali. Mungkin karena malam minggu?

Ketika akhirnya restoran tutup dan walaupun ia masih harus buang sampah dulu, ia merasa lega sekali bisa pulang juga. Setelah saling berpamitan dengan teman – teman yang lain, ia berjalan sendirian ke halte bis. Tak ada yang satu jalur dengannya.

Karena akhir pekan, restoran tutup lebih lama dari biasanya. Jalanan juga sudah mulai sepi. Di halte juga kebetulan tak ada orang lain yang sama – sama sedang menunggu bis.

“Aduh…bisnya kok lama sih?” gumam Keke tak sabar. Apalagi ia merasa kondisi badannya berbeda. Agak hangat dan berat di seluruh tubuh.

Ia duduk bersandar di halte dengan tidak nyaman. Dan tiba – tiba merasa sedikit pusing melihat mobil – mobil yang berseliweran di depannya.

“Aduh, mataku kenapa sih?” selanjutnya ia tidak ingat apa – apa lagi.

Beberapa saat ketika matanya terbuka lagi, Keke merasakan sesuatu yang hangat dan empuk. Ketika sepenuhnya sadar, ia otomatis bangkit dan mendapati tubuhnya diselimuti mantel tebal dan sepasang tangan bersarung tangan menekan lembut kedua bahunya agar kembali berbaring.

“Hello…easy, ok?” ucap suara bass yang empuk.

Keke kaget ternyata ia berbaring dipangkuan lelaki muda yang sepertinya jangkung. Oh-my-god!

“Speaking English? Korean?”

“Yyyes.”

“English then.” Lelaki itu tersenyum. “Tadi kau pingsan. Tidak ada siapapun. Hanya aku.”

“Thank you.” Ucap Keke gugup dan takut.

Lelaki itu tersenyum lagi. “Kalau aku bilang bukan orang jahat, kesannya justru aku ini memang orang jahat. Aku cuma menolong. Jangan bangun dulu.”

Tapi Keke memaksa bangun dan duduk tegak. Ia merasa agak pusing. “Maaf merepotkan.”

“It’s ok. Untung badanmu tidak terlalu panas tapi yang pasti badanmu demam. Sebaiknya ke dokter.”

Keke memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Wajahnya oriental khas Korea tapi bisa dibilang cakep walau bukan tipe kesukaannya. Dan yang paling penting bahasa Inggrisnya lancar. Bukan Konglish. “Berapa lama saya pingsan?” ia perhatikan sekitarnya. Masih berada di halte bis. Halte bis?! “Oh God! Aku ketinggalan bis!” jeritnya sambil melihat arlojinya.

“Taksi juga tidak ada.” Sambung lelaki itu kalem. “Aku Lee Joon Hee. Kau siapa? Ayo, kuantar.”

Keke memandangnya ragu setengah curiga.

Joon tersenyum paham. Ia mengambil dompetnya dan mengambil dua kartu nama. Miliknya dan manajernya. Ia serahkan kepada Keke. “Aku kebetulan lewat. Karena sering lewat sini, jadi kadang – kadang aku melihatmu juga.”

Keke membaca kartu nama atas nama John Lee dan sebuah kantor agensi yang beralamatkan di New York. New York? Kenapa? Ia menatap Joon agak semakin curiga. Kemudian ia membacanya lagi, ternyata tertera juga alamat kantor cabang di Seoul. Di kartu yang lain ada nama Kim Dong Jin dengan dua nomor telepon, satu sepertinya nomor pribadi dan yang satunya lagi nomor kantor yang sama dengan John Lee. “Siapa John Lee?”

“Oh, itu nama internasionalku.” Jawab Joon kalem sambil tersenyum dan sepenuhnya mengerti kecurigaan Keke. “Nama asliku Lee Joon Hee. Surname yang sama tapi beda pengucapan. Kalau internasional diucapkan dengan ‘L’ Lee tapi aslinya dengan ‘I’ I Joon Hee. Kata manajerku John I kedengarannya aneh.”

“Oh.” Ya, ia pernah dengar tentang hal itu. Mungkin lelaki di depannya ini pernah tinggal di negara berbahasa Inggris, tak aneh kalau dia menggunakan nama John Lee. Mirip nama aslinya juga. “Saya Kehara.”

“Ayo kuantar pulang. Sudah malam. Dingin pula.”

“Oh, maaf.” Keke baru ingat ia masih berselimut mantel milik Joon. “Ini. Kamsahamnida.”

“You’re welcome. Come.” Joon tersenyum sabar. “Bis terakhir sudah lewat. Tidak ada taksi.” Ia pun bangkit dan menarik lengan Keke. Tangan satunya menenteng mantelnya.

Terpaksa Keke bangkit dan mengikuti Joon menuju mobil sedan convertible warna hitam. Sekilas ia melihat mereknya. Mercedes Benz.

Joon membukakan pintu mobil untuknya. “Ayo masuk.”

“Thanks.” Keke masuk dengan perasaan cemas, ragu dan gugup.

Joon menutup pintunya, memutar dan masuk ke pintu satunya. Setelah sabuk pengaman dipasang, ia mengangkat penutup mobilnya. “Biar kau tidak kena angin. Jangan kuatir, aku tidak akan gigit kok.” Ejeknya sambil nyengir lebar dan segera menyalakan mesinnya lalu pergi dari sana. “Kemana?”

Keke menyebutkan alamatnya.

Joon mengangguk mengerti. Dan untuk meringankan suasana, ia mengajak Keke ngobrol. “Hmm…jadi kau mahasiswi. Kupikir hanya sekedar pegawai asing. Pertukaran pelajar?”

“Beasiswa.”

“Hebat. Jurusan apa?”

“Beauty Design.”

Joon otomatis melirik Keke, memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kenapa memilih Korea Selatan? Tidak ke Perancis, Inggris, Italia atau Amerika?”

“Mungkin karena lebih dekat dari Indonesia, dan dunia kecantikan Korea Selatan tak kalah bagusnya. Sekarang juga sedang booming kan? Jadi aku beruntung dan bersyukur bisa kesini.”

“Indonesia? Kau orang Indonesia?” Tanya Joon kaget.

“Yes. Kau pikir darimana? Malaysia?”

“Phillipines.”

“Hmm…begitu?”

Joon menyeringai lebar. “Ngomong – ngomong, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

“Ya. Terima kasih. Biasanya setelah pingsan aku merasa lebih baik, seperti melepas suatu beban.”

Joon mengangguk dan terdiam sesaat. “Seharusnya aku membawamu ke rumah sakit. Tapi entah kenapa aku berpikir sebaiknya kutunggu sampai kau siuman saja dan lihat keadaanmu. Kalau parah baru kubawa ke rumah sakit. Bodoh ya?”

“Untuk kasusku…sebenarnya mungkin tidak. Aku sering pingsan, sekalipun empat tahun terakhir sudah tidak pernah lagi. Makanya aku percaya diri untuk mengambil beasiswa ke luar negeri.” Jelas Keke. “Ini pertama kalinya aku pingsan lagi.”

“Begitu? Kau baik – baik saja?”

“Hanya anemia?”

“Oh, kuharap tidak apa – apa.”

“Ya, terima kasih.”

Akhirnya sampai juga di depan apartemen Keke.

“Terima kasih banyak atas tumpangan dan pertolongannya.” Ucapnya sebelum turun.

“Sama – sama. Sebaiknya kau langsung istirahat biar cepat pulih. Bisa masuk sendiri kan?”

“Ya, terima kasih.” Keke pun keluar dari mobil Joon.

Tak lama Joon pun langsung meninggalkan apartemen Keke.

Rabu, 23 September 2015

NOVEL: KEHARA & JOON, Prolog

Di salah satu studio foto milik seorang fotografer terkenal tengah dilakukan sesi pemotretan untuk salah satu majalah fashion terkemuka Korea Selatan. Dan seorang model dengan tinggi diatas 190cm dengan ekspresi yang selalu cool di wajah orientalnya dengan luwes melakukan berbagai pose sesuai image pakaian yang dikenakannya dan arahan fotografer.

Dengan bakatnya yang seperti bunglon itulah yang mengantarkannya sukses sebagai supermodel di panggung internasional. Dan tiga tahun lalu, John Lee, begitulah masyarakat memanggilnya, atau di lingkungan pribadinya lebih dikenal sebagai Lee Joon Hee, menghilang di saat karirnya sedang meroket.

Tak ada pernyataan langsung keluar dari mulutnya, hanya pernyataan resmi dari manajer dan agensinya saja yang menyatakan ia vakum sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja hal itu cukup menggemparkan panggung modeling.

Kemudian setahun lalu sesekali ia muncul di panggung runway dan disusul muncul di beberapa majalah fashion. Hanya saja masih sulit untuk bisa mendekatinya secara langsung. Ia masih menolak untuk memberikan pernyataan langsung ke media. Bahkan menolak melakukan pemotretan bersama model – model lainnya.

“Ok, bagus sekali, Joon. Sekarang kita istirahat dulu setengah jam.” Kata fotografer Kang Byeong Hyun, satu – satunya fotografer dimana Joon mau bekerja bersama saat ini.

Joon sangat menghormati dan mengagumi fotografer berusia empat puluhan itu. Bukan saja karena terkenal dan hebat, melainkan juga Kang Byeong Hyun bisa memotret dan mengeluarkan yang terbaik darinya. Selain itu fotografer itu sudah memotretnya sejak diawal karirnya yang masih bukan siapa – siapa.

Joon melangkah keluar dari set dan mengendurkan dasinya. Ia melepas jasnya yag segera diambil oleh penata busananya saat itu. Stylist Yoon Sae Ah. Wanita mungil dan salah satu stylist favorit atau lebih tepat dibilang kepercayaannya. Ia pun duduk di salah satu kursi yang ada.

“Ini.” Kim Dong Jin, manajernya menyerahkan sebotol jus jeruk kepadanya.

“Thanks.” Joon langsung membuka tutupnya dan meneguk isinya hingga hampir separo.

“Bagaimana kondisimu?”

“Lumayan.” Joon menutup botolnya sambil bersandar dengan santainya di kursi. “Maaf merepotkan.”

“Sejak awal kau kan memang merepotkan.” Dengus manajer Kim.

Joon tertawa. “Setelah ini yang terakhir kan?”

“Dua sesi lagi.”

Joon memperhatikan Kang Byeong Hyun dan asistennya menyiapkan set berikutnya. Mereka juga meletakkan sofa.
“Banyak permintaan melalui agensi untuk mengontrakmu bersama model – model yang lain. Ada lima permintaan untuk panggung runway dari desainer yang berbeda-beda.”

“Aku belum siap.” Sahut Joon datar.

“Joon ssi, saatnya ganti baju.” Tiba – tiba stylist Yoon Sae Ah mendekat, menariknya berdiri dan menyeretnya ke kamar ganti.

“Aduh, aduh, iya…aku datang.” Gerutu Joon. Tapi dalam hati ia tersenyum geli melihat stylistnya yang berbadan mungil menyeretnya pergi.

“Ini. Pakai ini.” Stylist Yoon menyambar pakaian – pakaian yang sudah disiapkannya dan diberikan nyaris dilempar ke tangan Joon.

“Hei, kalau merusak ini harus mengganti, tahu!” gerutu Joon.

“Lima menit!” perintah Yoon Sae Ah dan keluar dari kamar ganti.

Lima menit kemudian Joon sudah mengganti pakaian formalnya dengan pakaian santai. Celana jins warna gelap dipadu kemeja biru muda bergaris putih vertical kecil – kecil.

Stylist Yoon melipat lengan panjangnya sampai ke siku nyaris asal – asalan dan membuka tiga kancing teratas kemeja yang dipakai Joon. Memperlihatkan kalung perak tipis dan kecil dengan liontin J, inisial namanya.

Tak ada penata rambut ataupun make up artist. Semuanya dikerjakan sendiri oleh stylist Yoon. Dalam kesempata normal, biasanya ada make up artist tersendiri. Tapi saat ini, Joon hanya bersedia bekerja dengan orang – orang yang dipercayainya saja.

“Sudah selesai. Lebih dari ini aku tak mampu melakukannya. Aku hanya penata busana professional, bukan make up artist professional.” Ujar stylist Yoon.

“Hei, noona, kalau aku memilihmu berarti aku tahu kau mampu melakukannya.” Sahut Joon sambil bangkit.

“Sudahlah, Joon ssi, kita sama – sama tahu apa yang kita maksud. Sudah pergi sana!”

“Percaya diri kenapa sih!” gerutu Joon sambil keluar dari ruang ganti.

“Kukembalikan padamu!” balas Yoon Sae Ah. “Kau juga harus lebih percaya diri!”

“Pardon?”

“Sudah siap?” Tanya fotografer Kang tanpa sengaja melerai.

“Ya, aku siap!” seru Joon.

“Ok, sekarang kau berbaring di sofa itu, setengah duduk. Santai. Bosan.” Perintah Kang Byeong Hyun.

Joon pun menuju set, berbaring di sofa sesuai arahan Kang Byeong Hyun.

“Jangan cemberut, Joon!” teriak fotografer Kang. “Bosan. Santai. Ekspresi malas.”

Joon menyeringai lebar dan mulai focus ke kamera. Ia menunjukkan ekspresi bosan.

“Sempurna!” ujar Kang Byeong Hyun. Ia pun segera mengambil gambar Joon dari berbagai sudut. “Ok. Kau bisa ganti baju untuk sesi terakhir sekarang.”

Joon melangkah menuju kamar ganti. Di meja sudah ada celana jins belel yang warnanya sudah memudar dengan sobekan disana – sini, lalu T-Shirt putih bertuliskan Save The Earth! Save Your Life!

Stylist Yoon hanya perlu sedikit mengubah tatanan rambut Joon menjadi lebih acak – acakan. Setelah itu Joon segera kembali ke set.

“Sekarang kau duduk disitu, bersandar, satu kaki ditekuk ke atas dengan satu tangan menyentuh kepala sambil menopang pada kaki. Tunjukkan ekspresi malas dan bosan.” Kata Kang Byeong Hyun.

Joon langsung bekerja sesuai arahan.

“Good job, Joon. Sekarang satu lagi. Kampanye bumi.”

Seorang asisten memberikan Joon seekor kucing dewasa berwarna abu – abu. Joon duduk santai dengan kucing yang berbaring nyaman dipangkuannya. Satu tangannya mengelus lembut kucing tersebut, sementara tangan lainnya ia letakkan di sandaran kursi.

“Bagus. Sempurna! Tulisan di T-Shirtmu kelihatan jelas.” Kata Kang Byeong Hyun sambil memotret mereka berrdua.


***

Simply Berlin. Simply Me :)

Hai, Berlin disini...oh oh...masih kaku nih....tapi aku berharap kalian akan suka dengan apa yang aku tulis nantinya... :)

I still have no idea why I made this blog. Still don't know what to do. But one thing for sure I wanna share my dreams. And for you who don't speak in Bahasa Indonesia, you can use translator tool that have been provided. Hope you enjoy it :)

1. Kehara & Joon
A fictional mainstream story based on my own experienced when I suddenly black out without a cause in my school days.
       Kisah tentang perempuan muda 30th, Kehara, yang berhasil belajar di negeri para Hallyu Stars. Dia juga harus berkutat kembali dengan penyakit lamanya yang tiba - tiba kambuh: anemia dan sindrom tiba - tiba pingsan tanpa gejala umum.
      Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadiku yang dijadikan fiksi. Ketika akhirnya berhasil melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi setelah enam tahun sejak lulus SMA, kemudian harus berjuang keras agar bisa lulus dengan baik ditengah ancaman sakit yang mungkin kelihatannya ringan. Tapi sering pingsan tiba - tiba bukanlah hal yang menyenangkan.  
       Kuucapkan terima kasih kepada keluarga besar dan teman - teman yang sudah sabar dengan keadaanku selama ini. Terima kasih banyak :)