Di sudut lain kota, Kehara Hastiwi tengah berkutat dengan kesibukannya bekerja di sebuah restoran. Tugasnya hanya di dapur mencuci piring, buang sampah atau membantu yang lainnya. Bukan hal yang mudah tapi ia bersyukur masih bisa mendapatkan tambahan uang saku.
Saat ini sudah memasuki tahun kedua Keke di Korea Selatan untuk melanjutkan sekolah kecantikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan setelah melewati semester pertama dengan baik, ia sudah bisa mengambil kerja sambilan di semester dua.
Ia melirik jam yang ada di dinding. Setengah jam lagi restoran tutup. Setengah jam lagi ia bisa pulang. Malam ini ia merasa lumayan capek karena pengunjung restoran sedang banyak sekali. Mungkin karena malam minggu?
Ketika akhirnya restoran tutup dan walaupun ia masih harus buang sampah dulu, ia merasa lega sekali bisa pulang juga. Setelah saling berpamitan dengan teman – teman yang lain, ia berjalan sendirian ke halte bis. Tak ada yang satu jalur dengannya.
Karena akhir pekan, restoran tutup lebih lama dari biasanya. Jalanan juga sudah mulai sepi. Di halte juga kebetulan tak ada orang lain yang sama – sama sedang menunggu bis.
“Aduh…bisnya kok lama sih?” gumam Keke tak sabar. Apalagi ia merasa kondisi badannya berbeda. Agak hangat dan berat di seluruh tubuh.
Ia duduk bersandar di halte dengan tidak nyaman. Dan tiba – tiba merasa sedikit pusing melihat mobil – mobil yang berseliweran di depannya.
“Aduh, mataku kenapa sih?” selanjutnya ia tidak ingat apa – apa lagi.
Beberapa saat ketika matanya terbuka lagi, Keke merasakan sesuatu yang hangat dan empuk. Ketika sepenuhnya sadar, ia otomatis bangkit dan mendapati tubuhnya diselimuti mantel tebal dan sepasang tangan bersarung tangan menekan lembut kedua bahunya agar kembali berbaring.
“Hello…easy, ok?” ucap suara bass yang empuk.
Keke kaget ternyata ia berbaring dipangkuan lelaki muda yang sepertinya jangkung. Oh-my-god!
“Speaking English? Korean?”
“Yyyes.”
“English then.” Lelaki itu tersenyum. “Tadi kau pingsan. Tidak ada siapapun. Hanya aku.”
“Thank you.” Ucap Keke gugup dan takut.
Lelaki itu tersenyum lagi. “Kalau aku bilang bukan orang jahat, kesannya justru aku ini memang orang jahat. Aku cuma menolong. Jangan bangun dulu.”
Tapi Keke memaksa bangun dan duduk tegak. Ia merasa agak pusing. “Maaf merepotkan.”
“It’s ok. Untung badanmu tidak terlalu panas tapi yang pasti badanmu demam. Sebaiknya ke dokter.”
Keke memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Wajahnya oriental khas Korea tapi bisa dibilang cakep walau bukan tipe kesukaannya. Dan yang paling penting bahasa Inggrisnya lancar. Bukan Konglish. “Berapa lama saya pingsan?” ia perhatikan sekitarnya. Masih berada di halte bis. Halte bis?! “Oh God! Aku ketinggalan bis!” jeritnya sambil melihat arlojinya.
“Taksi juga tidak ada.” Sambung lelaki itu kalem. “Aku Lee Joon Hee. Kau siapa? Ayo, kuantar.”
Keke memandangnya ragu setengah curiga.
Joon tersenyum paham. Ia mengambil dompetnya dan mengambil dua kartu nama. Miliknya dan manajernya. Ia serahkan kepada Keke. “Aku kebetulan lewat. Karena sering lewat sini, jadi kadang – kadang aku melihatmu juga.”
Keke membaca kartu nama atas nama John Lee dan sebuah kantor agensi yang beralamatkan di New York. New York? Kenapa? Ia menatap Joon agak semakin curiga. Kemudian ia membacanya lagi, ternyata tertera juga alamat kantor cabang di Seoul. Di kartu yang lain ada nama Kim Dong Jin dengan dua nomor telepon, satu sepertinya nomor pribadi dan yang satunya lagi nomor kantor yang sama dengan John Lee. “Siapa John Lee?”
“Oh, itu nama internasionalku.” Jawab Joon kalem sambil tersenyum dan sepenuhnya mengerti kecurigaan Keke. “Nama asliku Lee Joon Hee. Surname yang sama tapi beda pengucapan. Kalau internasional diucapkan dengan ‘L’ Lee tapi aslinya dengan ‘I’ I Joon Hee. Kata manajerku John I kedengarannya aneh.”
“Oh.” Ya, ia pernah dengar tentang hal itu. Mungkin lelaki di depannya ini pernah tinggal di negara berbahasa Inggris, tak aneh kalau dia menggunakan nama John Lee. Mirip nama aslinya juga. “Saya Kehara.”
“Ayo kuantar pulang. Sudah malam. Dingin pula.”
“Oh, maaf.” Keke baru ingat ia masih berselimut mantel milik Joon. “Ini. Kamsahamnida.”
“You’re welcome. Come.” Joon tersenyum sabar. “Bis terakhir sudah lewat. Tidak ada taksi.” Ia pun bangkit dan menarik lengan Keke. Tangan satunya menenteng mantelnya.
Terpaksa Keke bangkit dan mengikuti Joon menuju mobil sedan convertible warna hitam. Sekilas ia melihat mereknya. Mercedes Benz.
Joon membukakan pintu mobil untuknya. “Ayo masuk.”
“Thanks.” Keke masuk dengan perasaan cemas, ragu dan gugup.
Joon menutup pintunya, memutar dan masuk ke pintu satunya. Setelah sabuk pengaman dipasang, ia mengangkat penutup mobilnya. “Biar kau tidak kena angin. Jangan kuatir, aku tidak akan gigit kok.” Ejeknya sambil nyengir lebar dan segera menyalakan mesinnya lalu pergi dari sana. “Kemana?”
Keke menyebutkan alamatnya.
Joon mengangguk mengerti. Dan untuk meringankan suasana, ia mengajak Keke ngobrol. “Hmm…jadi kau mahasiswi. Kupikir hanya sekedar pegawai asing. Pertukaran pelajar?”
“Beasiswa.”
“Hebat. Jurusan apa?”
“Beauty Design.”
Joon otomatis melirik Keke, memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kenapa memilih Korea Selatan? Tidak ke Perancis, Inggris, Italia atau Amerika?”
“Mungkin karena lebih dekat dari Indonesia, dan dunia kecantikan Korea Selatan tak kalah bagusnya. Sekarang juga sedang booming kan? Jadi aku beruntung dan bersyukur bisa kesini.”
“Indonesia? Kau orang Indonesia?” Tanya Joon kaget.
“Yes. Kau pikir darimana? Malaysia?”
“Phillipines.”
“Hmm…begitu?”
Joon menyeringai lebar. “Ngomong – ngomong, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”
“Ya. Terima kasih. Biasanya setelah pingsan aku merasa lebih baik, seperti melepas suatu beban.”
Joon mengangguk dan terdiam sesaat. “Seharusnya aku membawamu ke rumah sakit. Tapi entah kenapa aku berpikir sebaiknya kutunggu sampai kau siuman saja dan lihat keadaanmu. Kalau parah baru kubawa ke rumah sakit. Bodoh ya?”
“Untuk kasusku…sebenarnya mungkin tidak. Aku sering pingsan, sekalipun empat tahun terakhir sudah tidak pernah lagi. Makanya aku percaya diri untuk mengambil beasiswa ke luar negeri.” Jelas Keke. “Ini pertama kalinya aku pingsan lagi.”
“Begitu? Kau baik – baik saja?”
“Hanya anemia?”
“Oh, kuharap tidak apa – apa.”
“Ya, terima kasih.”
Akhirnya sampai juga di depan apartemen Keke.
“Terima kasih banyak atas tumpangan dan pertolongannya.” Ucapnya sebelum turun.
“Sama – sama. Sebaiknya kau langsung istirahat biar cepat pulih. Bisa masuk sendiri kan?”
“Ya, terima kasih.” Keke pun keluar dari mobil Joon.
Tak lama Joon pun langsung meninggalkan apartemen Keke.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar