Di salah satu studio foto milik seorang fotografer terkenal tengah dilakukan sesi pemotretan untuk salah satu majalah fashion terkemuka Korea Selatan. Dan seorang model dengan tinggi diatas 190cm dengan ekspresi yang selalu cool di wajah orientalnya dengan luwes melakukan berbagai pose sesuai image pakaian yang dikenakannya dan arahan fotografer.
Dengan bakatnya yang seperti bunglon itulah yang mengantarkannya sukses sebagai supermodel di panggung internasional. Dan tiga tahun lalu, John Lee, begitulah masyarakat memanggilnya, atau di lingkungan pribadinya lebih dikenal sebagai Lee Joon Hee, menghilang di saat karirnya sedang meroket.
Tak ada pernyataan langsung keluar dari mulutnya, hanya pernyataan resmi dari manajer dan agensinya saja yang menyatakan ia vakum sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja hal itu cukup menggemparkan panggung modeling.
Kemudian setahun lalu sesekali ia muncul di panggung runway dan disusul muncul di beberapa majalah fashion. Hanya saja masih sulit untuk bisa mendekatinya secara langsung. Ia masih menolak untuk memberikan pernyataan langsung ke media. Bahkan menolak melakukan pemotretan bersama model – model lainnya.
“Ok, bagus sekali, Joon. Sekarang kita istirahat dulu setengah jam.” Kata fotografer Kang Byeong Hyun, satu – satunya fotografer dimana Joon mau bekerja bersama saat ini.
Joon sangat menghormati dan mengagumi fotografer berusia empat puluhan itu. Bukan saja karena terkenal dan hebat, melainkan juga Kang Byeong Hyun bisa memotret dan mengeluarkan yang terbaik darinya. Selain itu fotografer itu sudah memotretnya sejak diawal karirnya yang masih bukan siapa – siapa.
Joon melangkah keluar dari set dan mengendurkan dasinya. Ia melepas jasnya yag segera diambil oleh penata busananya saat itu. Stylist Yoon Sae Ah. Wanita mungil dan salah satu stylist favorit atau lebih tepat dibilang kepercayaannya. Ia pun duduk di salah satu kursi yang ada.
“Ini.” Kim Dong Jin, manajernya menyerahkan sebotol jus jeruk kepadanya.
“Thanks.” Joon langsung membuka tutupnya dan meneguk isinya hingga hampir separo.
“Bagaimana kondisimu?”
“Lumayan.” Joon menutup botolnya sambil bersandar dengan santainya di kursi. “Maaf merepotkan.”
“Sejak awal kau kan memang merepotkan.” Dengus manajer Kim.
Joon tertawa. “Setelah ini yang terakhir kan?”
“Dua sesi lagi.”
Joon memperhatikan Kang Byeong Hyun dan asistennya menyiapkan set berikutnya. Mereka juga meletakkan sofa.
“Banyak permintaan melalui agensi untuk mengontrakmu bersama model – model yang lain. Ada lima permintaan untuk panggung runway dari desainer yang berbeda-beda.”
“Aku belum siap.” Sahut Joon datar.
“Joon ssi, saatnya ganti baju.” Tiba – tiba stylist Yoon Sae Ah mendekat, menariknya berdiri dan menyeretnya ke kamar ganti.
“Aduh, aduh, iya…aku datang.” Gerutu Joon. Tapi dalam hati ia tersenyum geli melihat stylistnya yang berbadan mungil menyeretnya pergi.
“Ini. Pakai ini.” Stylist Yoon menyambar pakaian – pakaian yang sudah disiapkannya dan diberikan nyaris dilempar ke tangan Joon.
“Hei, kalau merusak ini harus mengganti, tahu!” gerutu Joon.
“Lima menit!” perintah Yoon Sae Ah dan keluar dari kamar ganti.
Lima menit kemudian Joon sudah mengganti pakaian formalnya dengan pakaian santai. Celana jins warna gelap dipadu kemeja biru muda bergaris putih vertical kecil – kecil.
Stylist Yoon melipat lengan panjangnya sampai ke siku nyaris asal – asalan dan membuka tiga kancing teratas kemeja yang dipakai Joon. Memperlihatkan kalung perak tipis dan kecil dengan liontin J, inisial namanya.
Tak ada penata rambut ataupun make up artist. Semuanya dikerjakan sendiri oleh stylist Yoon. Dalam kesempata normal, biasanya ada make up artist tersendiri. Tapi saat ini, Joon hanya bersedia bekerja dengan orang – orang yang dipercayainya saja.
“Sudah selesai. Lebih dari ini aku tak mampu melakukannya. Aku hanya penata busana professional, bukan make up artist professional.” Ujar stylist Yoon.
“Hei, noona, kalau aku memilihmu berarti aku tahu kau mampu melakukannya.” Sahut Joon sambil bangkit.
“Sudahlah, Joon ssi, kita sama – sama tahu apa yang kita maksud. Sudah pergi sana!”
“Percaya diri kenapa sih!” gerutu Joon sambil keluar dari ruang ganti.
“Kukembalikan padamu!” balas Yoon Sae Ah. “Kau juga harus lebih percaya diri!”
“Pardon?”
“Sudah siap?” Tanya fotografer Kang tanpa sengaja melerai.
“Ya, aku siap!” seru Joon.
“Ok, sekarang kau berbaring di sofa itu, setengah duduk. Santai. Bosan.” Perintah Kang Byeong Hyun.
Joon pun menuju set, berbaring di sofa sesuai arahan Kang Byeong Hyun.
“Jangan cemberut, Joon!” teriak fotografer Kang. “Bosan. Santai. Ekspresi malas.”
Joon menyeringai lebar dan mulai focus ke kamera. Ia menunjukkan ekspresi bosan.
“Sempurna!” ujar Kang Byeong Hyun. Ia pun segera mengambil gambar Joon dari berbagai sudut. “Ok. Kau bisa ganti baju untuk sesi terakhir sekarang.”
Joon melangkah menuju kamar ganti. Di meja sudah ada celana jins belel yang warnanya sudah memudar dengan sobekan disana – sini, lalu T-Shirt putih bertuliskan Save The Earth! Save Your Life!
Stylist Yoon hanya perlu sedikit mengubah tatanan rambut Joon menjadi lebih acak – acakan. Setelah itu Joon segera kembali ke set.
“Sekarang kau duduk disitu, bersandar, satu kaki ditekuk ke atas dengan satu tangan menyentuh kepala sambil menopang pada kaki. Tunjukkan ekspresi malas dan bosan.” Kata Kang Byeong Hyun.
Joon langsung bekerja sesuai arahan.
“Good job, Joon. Sekarang satu lagi. Kampanye bumi.”
Seorang asisten memberikan Joon seekor kucing dewasa berwarna abu – abu. Joon duduk santai dengan kucing yang berbaring nyaman dipangkuannya. Satu tangannya mengelus lembut kucing tersebut, sementara tangan lainnya ia letakkan di sandaran kursi.
“Bagus. Sempurna! Tulisan di T-Shirtmu kelihatan jelas.” Kata Kang Byeong Hyun sambil memotret mereka berrdua.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar