Rabu, 21 Oktober 2015

KEHARA & JOON, Bab Dua (lanjutan)



When Keke drove home, Joon tried to hide his condition. Joon true - true restraint, even he could not feel his smile after usual. Waving his hand was rigid. It was just thankful that Keke was not aware of it. It sure did.

Joon Keke left the apartment as fast as he could and returned to his apartment. Once there, just throw the key into place and went into the bathroom, opened the lid of the toilet and threw up the entire contents of his stomach. Especially his dinner. 

Done manage his guts, his body was sweating and he sat on the bathroom floor. He knew that he would not feel better, even feel guilty.

After a bit of quiet, he rose from his mouth wash in the sink. He looked at himself in the mirror and immediately feel hate.

Out of the bathroom to take off his jacket, then changed clothes. It has no desire to go take a shower. Just wanted to forget everything. But his mind was not calm. Finally he took a shower, soak in warm water while using a wireless phone to call her manager had brought in.

"What ?!" shouted Kim Dong Jin opposite. "You're doing it again ?!"

"Yes." Joon replied weakly.

"Lee Joon Hee! Next week you have even show it to charity. Oh, or rather because of it to charity. "Omel Joon manager was annoyed and anxious. "You're stress or what?"

"I do not know. I do not know. "

"I just wish bulimiamu getting worse. It was also a reason to come back to Korea? "

"Yes, I know."

"You want a break tomorrow?"

"No. There is no point as well. "

"Do not get worse tomorrow and affect your work."

Joon smiled wryly. "Even my last job at the Milan show was spectacular though still end ' of the moment 'I am sick bulimia. "

There was a pause. "You want me to go there now?" Asked Kim Dong Jin eventually.

"No, thank you."

"All right. Take care of yourself - good. "

"I understand." Joon hung up the phone and put it in the corner, on a dry towel.

Joon soak a little longer, and then out of the shower, still with an uneasy feeling. She wore only bathing without any Jubbah behind. Wiping her wet hair with a towel with one hand, he hung up with the other hand.

He went to the kitchen and grabbed a beer. Open it and drink it while walking into the living room. She sat with her feet up on the table.

"Tsk! What an idiot! "He muttered to himself Joon. "Of course vomiting. Have not eat that much. "

It felt a bit nervous about his illness. It must be overcome, not just for show next week, but for modellingnya career lifespan. He realized with increasing age, the less is the chance to stand on the stage runway. If you want to survive, perhaps only as a model editorial, commercial including product catalogs.

While thinking of that, it recalled the offer of a production house for film and drama series. Television advertising also. When the offer came, her modeling career is very dense and it is not keen to jump on another plane.

The problem is, even now it is trying to build his career back. You could say it like that, so to think of any other job in no time. For certain reasons, it is still not ready to meet and work with many people. A year later he received only just asked him a job as a model yourself. If you receive an offer on the runway stage, it depends who the designer and theme of the event.

Then in each exercise to show, like this time, it is necessary to interact with the other model. He at least was grateful, because it is more work abroad and live there, only occasionally to take a job in Korea, including Korea, he had no close friends, so do not be a burden at this time when he preferred to shut down. Nobody will be offended.

It's just a - frills' international model ' , not a few who tried to approach either as a stepping stone or bridge onto the international stage.

Meet people - people like that in many cases it would strangle them one by one. Instant how their efforts to fly higher, while he had to start from scratch.

Her debut in Japan later continued in South Korea did not necessarily make it immediately received open arms on stage internasonal. Contracted large agencies, already have a name and experience in their home countries, does not necessarily make a great job overflow. He had to crawl on the ground and proved that it is quality that his agency was not mistaken. Plus lots of great people come together, if not themselves have the quality, character and uniqueness can certainly not be able to survive. Not just a handsome face, beautiful, tall, with a good shape.

"Hmm ... yeah nice body ..." Joon smiled ruefully recall the main requirements to become a model. "Many are emaciated. There are no oversized. I think that in the end the excess. "He emptied the can in one go, get up off the couch, throw it in the trash and went into the room and sleep.

Selasa, 13 Oktober 2015

KEHARA & JOON, Bab Dua

"Hei, Keke ssi, ada pesan untukmu. Kata salah seorang teman yang bertugas sebagai pelayan.

Saat itu Keke tengah mengeringkan piring - piring yang baru saja dicucinya. "Pesan?"

"Joon sudah datang, begitu katanya."

"Joon?" Ulang Keke kaget. "Joon?"

Temannya itu mengangguk sambil tersenyum jahil. "Hebat bisa punya pacar begitu. Tinggi. Tampan. Tapi...makannya banyak ya?"

"Maaf?"

Temannya mengangguk mantap dan menceritakan apa saja yang dipesan oleh Joon. "Padahal dia datang sendirian. Mungkin orang jangkung makannya banyak ya?"

Keke kaget mendengar cerita temannya itu. "Oh, dia bukan pacarku."

"Wah, sayang sekali. Kalau saja aku belum punya pacar, aku mau sama dia." Temannya itu tersenyum jahil. "Yah sudah, aku kembali ke depan dulu."

Keke masih mikirkan perkataan temannya itu sambil terus mengeringkan piring - piring. Tapi selanjutnya ia tidak bisa lagi memikirkan hal itu karena banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukannya.

Ketika restoran tutup dan Keke akhirnya bisa pulang Joon menunggunya di depan restoran. Dengan canggung ia berjalan mendekati Joon karena hampir semua teman - teman kerjanya memperhatikan. Joon tersenyum ramah kepada mereka sambil mengamit tangannya, mengajaknya segera pergi dari situ.

"Seharusnyakita bertemu di halte bis saja." Gumam Keke setelah masuk ke dalam mobil Joon.

"Dan membiarkan aku kelaparan begitu?" Tanya Joon sambil memasang sabuk pengamannya.

"Oh, ngomong - ngomong soal kelaparan, aku dengar kau pesan makanan banyak sekali."

Joon yang hendak menghidupkan mesin mobil langsung jadi kaku, lalu berusaha mengendalikan diri. "Hmm...yeah, badanku kan besar dan aku sedang kelaparan."

"Begitu? Rakus ya?" Ejek Keke. Aneh, orang kelaparan tidak sampai seperti itu juga. Ia mengernyit memandang Joon.

Joon tertawa sumbang. "Oh, iya, sebelum aku lupa..." Ia mengambil tasnya yang ada di jok belakang dan mengambil undangan lalu diberikan kepada Keke.

"Apa ini?" Tanya Keke penasaran.

Setelah meletakkan tasnya kembali, Joon langsung menghidupkan mesin dan membawa mereka pulang.
"Tiket masuk pagelaran fashion show. Kursi VIP sudah habis, jadi itu kursi biasa." Jawab Joon berusaha mencairkan suasana.

"Hebat!" Ujar Keke. "Kok kau bida dapat tiket ini?"

"Noona ingin tahu pekerjaanku kan? Datang saja ke fashion show itu. Jangan kaget ya..."

Keke melirik Joon. Entah mengapa tiba - tiba dadanya berdebar - debar. Tangannya memegang erat tiket tersebut. "Pekerjaanmu itu...model?"

Joon menoleh sambil tersenyum lalu kembali fokus menyetir. Ia mengangguk. "Begitulah."

Keke terdiam. "Pantas...kau bilang seharusnya aku yang hairdresser ini tahu tentangmu sih." Ia tertawa kecil. "Maaf, aku tidak tahu. Kalau pun aku membuka majalah fashion, biasanya yang kuperhatikan bukan siapa modelnya sih tapi rambut dan makeupnya."

Joon mendengus sambil mengangkat kedua alisnya.

"Walaupun aku sempat mengira kau ini mungkinseorang hairdresser juga." Keke memandang Joon lekat - lekat. "Kau ini terkenal?"

Joon tersenyum lebar. "Menurutmu?"

"Entahlah." Keke mengangkat kedua bahunya. "Model kan tidak diukur daribtinggi badan dan wajah yang sekedar tampan atau cantik saja."

"Betul. Harus punya karakter." Joon mengangguk.

"Aku dengar ada tiga jenis model ya?"

"Ya. Model runway, editorial dan komersial."

"Kau yang mana?"

"Bisa dibilang ketiganya, tapi aku hampir tidak pernah mengambil pekerjaan sebagai model komersial. Lebih banyak sebagai model runway."

Keke mengangguk paham. "Yap, dengan tinggi badanmu yang menjulang seperti itu."

Joon tertawa.

"Jadi model itu berat ya?" Tanya Keke sedikit menggumam.
Joon melirik Keke. "Wah, kau orang pertama yang mengatakan itu."

"Orang awam pertama maksudmu? Atau diantara pengagummu 'aku' gadis pertama yang mengatakan itu? Walaupun bisa dibilang aku bukan pengagummu juga sih."
Joon menyeringai lebar. 'Semacam itulah."

"Kupikir seorang model kan memang dibayar untuk menampilkan image yang keren bahkan glamor. Itu hanya bagian dari pekerjaan kan? Tidak bisa hanya dikatakan secara sederhana seperti 'itu kan hanha sekedar berjalan dan berpose, apa susahnya', 'itu' bukanlah pekerjaan sederhana dan biasa saja." Kata Keke setengah merenung.
Joon mengangguk. "Bangun pagi - pagi, tidur larut malam. Ketika sedang kesal atau sedih harus tetap tersenyum."

"Tapi gajinya juga bagus."

"Karena itu bukan pekerjaan yang bisa digantikan sembarang orang. Setiap individu memiliki ciri khas dan keunikan masing - masing."

"Bahkan aku tak tahu dan tak bisa menilai kalau disuruh membandingkan Cindy Crawford fan Claudia Schiffer."

Joon menoleh kaget. 

Keke mengangkat bahunya. "Mereka cantik dan anggun tapi jujur aku tidak bisa melihat apa yang dilihat para designer."

"Tapi kau kan seorang hairdresser."

"Mungkin masalah selera? Yang jelas kalau mereka berhasil sampai puncak berarti kinerja mereka luar biasa."
Kemudian masalah Cindy Crawford dan Claudia Schiffer tak bisa hilang dari pikiran Keke. 'Saat ini' mungkin tidak apa - apa ia berpikir begitu mengenai dua supermodel tersebut. Namun bila ia berniat terjun di bidang tata kecantikan rambut dan wajah, ia harus bisa melihat kelebihan seseorang sejeli mungkin. Siapa tahu ia juga bekerja sebagai hairdresser profesional yang akan menangani para model sebagai partner kerja designer.

Hanya saja yang jelas baginya setelah bertemu Joon beberapa kali dan mengetahui profesinya sebagai seorang model, ia bisa melihat bahwa Joon seorang model yang berkaraktet kuat.

***

Rabu, 07 Oktober 2015

Kehara & Joon

I think you'd like this story: "KEHARA & JOON" by null on Wattpad http://w.tt/1VD4Mmi.

Selasa, 06 Oktober 2015

NOVEL : KEHARA & JOON, Bab Satu (lanjutan)

Di dalam apartemennya, Keke meletakkan tas dan belanjaannya di meja. Meminum obatnya, lalu ganti baju dan tidur. Sebenarnya ia tidak sendirian, hanya saja Julie Giraud, teman seapartemennya yang berasal dari Perancis jarang berada di rumah. Jurusannya berbeda dan dia lebih sering berada di lab. Hampir sepanjang waktu.

Tapi seperti biasa, sambil tiduran ia membuka catatan kuliahnya. Ia bermaksud membacanya sampai ketiduran. Masalahnya teori – teori itu tak satupun masuk ke otaknya. Ia malah kepikiran tentang Joon. 

Memang siapa sih dia? Orang terkenal juga? Tapi ada yang sedikit aneh, sepertinya ada hubungannya dengan pekerjaan seorang hairdresser atau make up artist. Apa dia seorang ahli di salah satu bidang itu? Lebih cocok jadi modelnya deh.

“Hmm…?!” kaget dengan pemikirannya sendiri, ia terduduk. “Model kan memang tidak butuh sekedar wajah cakep, tapi harus punya karakter. Dengan tubuh menjulang kayak tiang listrik begitu pasti diterima di panggung internasional. Hmm…bisa jadi sih ya…” ia pun berbaring lagi.

Kalau dipikir lagi sih memang cocok. Model pasti berhubungan dengan para hairdresser atau make up artist. Sedikit kurus sih tapi badan Joon proporsional. Atau kurusnya itu sesuai dengan standar model internasional? Siapa tahu. Gerakannya juga luwes.

“Hah…iya, ya, aku baru ingat kalau di kartu nama yang dia kasih ke aku ada alamat agensi juga. Jangan – jangan itu agensinya…Wah, aku kenal orang kayak gitu.”

Kebetulan yang aneh atau boleh dipercaya sebagai takdir?
Ia mulai menguap dan matanya terasa berat. Mungkin efek obat. Ia meletakkan buku kuliahnya di lantai dan tidur.  

***

Di saat yang sama, Joon tengah bersantai sambil menikmati birnya. Ia bukan peminum tapi ada kalanya ia ingin minum dan berhenti saat merasa sudah pada batasnya.

Sebelum bertemu Keke, sebetulnya ia tengah kesal dan sedikit bad mood akibat latihan yang harus dijalaninya hari ini.

Minggu depan ada pagelaran fashion show untuk menggalang dana kampanye untuk para penderita kanker payudara. Ada enam desainer yang akan berpartisipasi. Tiga laki – laki dan tiga perempuan. Dua di antaranya adalah desainer top, empat sisanya adalah desainer baru yang sedang naik daun.

Joon terrmasuk salah satu dari model yang akan memeragakan kreasi dari keenam desainer tersebut.

Hari ini ia kesal karena ada Cho Eun Jung, seorang model perempuan yang terlalu manja dan semaunya sehingga agak mengacaukan latihan dengan ide – ide dan segala tingkah pola menurut egonya sendiri. Ditambah lagi, model itu terus berusaha menarik perhatiannya. Seolah belum cukup, pada sesi latihan salah satu desainer, beberapa model harus mengulang beberapa kali karena tidak bisa menampilkan image yang diingini desainer tersebut.

“Beginilah kalau bekerja bersama model amatiran!” gerutu Cho Eun Jung sombong.

Joon yang kebetulan di belakangnya hanya melotot frustrasi padanya tapi tidak mengucapkan sepatah katapun.

Persaingan belakang panggung memang ketat tapi ia paling benci dengan hal – hal seperti yang dilakukan oleh Cho Eun Jung.