"Hei, Keke ssi, ada pesan untukmu. Kata salah seorang teman yang bertugas sebagai pelayan.
Saat itu Keke tengah mengeringkan piring - piring yang baru saja dicucinya. "Pesan?"
"Joon sudah datang, begitu katanya."
"Joon?" Ulang Keke kaget. "Joon?"
Temannya itu mengangguk sambil tersenyum jahil. "Hebat bisa punya pacar begitu. Tinggi. Tampan. Tapi...makannya banyak ya?"
"Maaf?"
Temannya mengangguk mantap dan menceritakan apa saja yang dipesan oleh Joon. "Padahal dia datang sendirian. Mungkin orang jangkung makannya banyak ya?"
Keke kaget mendengar cerita temannya itu. "Oh, dia bukan pacarku."
"Wah, sayang sekali. Kalau saja aku belum punya pacar, aku mau sama dia." Temannya itu tersenyum jahil. "Yah sudah, aku kembali ke depan dulu."
Keke masih mikirkan perkataan temannya itu sambil terus mengeringkan piring - piring. Tapi selanjutnya ia tidak bisa lagi memikirkan hal itu karena banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukannya.
Ketika restoran tutup dan Keke akhirnya bisa pulang Joon menunggunya di depan restoran. Dengan canggung ia berjalan mendekati Joon karena hampir semua teman - teman kerjanya memperhatikan. Joon tersenyum ramah kepada mereka sambil mengamit tangannya, mengajaknya segera pergi dari situ.
"Seharusnyakita bertemu di halte bis saja." Gumam Keke setelah masuk ke dalam mobil Joon.
"Dan membiarkan aku kelaparan begitu?" Tanya Joon sambil memasang sabuk pengamannya.
"Oh, ngomong - ngomong soal kelaparan, aku dengar kau pesan makanan banyak sekali."
Joon yang hendak menghidupkan mesin mobil langsung jadi kaku, lalu berusaha mengendalikan diri. "Hmm...yeah, badanku kan besar dan aku sedang kelaparan."
"Begitu? Rakus ya?" Ejek Keke. Aneh, orang kelaparan tidak sampai seperti itu juga. Ia mengernyit memandang Joon.
Joon tertawa sumbang. "Oh, iya, sebelum aku lupa..." Ia mengambil tasnya yang ada di jok belakang dan mengambil undangan lalu diberikan kepada Keke.
"Apa ini?" Tanya Keke penasaran.
Setelah meletakkan tasnya kembali, Joon langsung menghidupkan mesin dan membawa mereka pulang.
"Tiket masuk pagelaran fashion show. Kursi VIP sudah habis, jadi itu kursi biasa." Jawab Joon berusaha mencairkan suasana.
"Hebat!" Ujar Keke. "Kok kau bida dapat tiket ini?"
"Noona ingin tahu pekerjaanku kan? Datang saja ke fashion show itu. Jangan kaget ya..."
Keke melirik Joon. Entah mengapa tiba - tiba dadanya berdebar - debar. Tangannya memegang erat tiket tersebut. "Pekerjaanmu itu...model?"
Joon menoleh sambil tersenyum lalu kembali fokus menyetir. Ia mengangguk. "Begitulah."
Keke terdiam. "Pantas...kau bilang seharusnya aku yang hairdresser ini tahu tentangmu sih." Ia tertawa kecil. "Maaf, aku tidak tahu. Kalau pun aku membuka majalah fashion, biasanya yang kuperhatikan bukan siapa modelnya sih tapi rambut dan makeupnya."
Joon mendengus sambil mengangkat kedua alisnya.
"Walaupun aku sempat mengira kau ini mungkinseorang hairdresser juga." Keke memandang Joon lekat - lekat. "Kau ini terkenal?"
Joon tersenyum lebar. "Menurutmu?"
"Entahlah." Keke mengangkat kedua bahunya. "Model kan tidak diukur daribtinggi badan dan wajah yang sekedar tampan atau cantik saja."
"Betul. Harus punya karakter." Joon mengangguk.
"Aku dengar ada tiga jenis model ya?"
"Ya. Model runway, editorial dan komersial."
"Kau yang mana?"
"Bisa dibilang ketiganya, tapi aku hampir tidak pernah mengambil pekerjaan sebagai model komersial. Lebih banyak sebagai model runway."
Keke mengangguk paham. "Yap, dengan tinggi badanmu yang menjulang seperti itu."
Joon tertawa.
"Jadi model itu berat ya?" Tanya Keke sedikit menggumam.
Joon melirik Keke. "Wah, kau orang pertama yang mengatakan itu."
"Orang awam pertama maksudmu? Atau diantara pengagummu 'aku' gadis pertama yang mengatakan itu? Walaupun bisa dibilang aku bukan pengagummu juga sih."
Joon menyeringai lebar. 'Semacam itulah."
"Kupikir seorang model kan memang dibayar untuk menampilkan image yang keren bahkan glamor. Itu hanya bagian dari pekerjaan kan? Tidak bisa hanya dikatakan secara sederhana seperti 'itu kan hanha sekedar berjalan dan berpose, apa susahnya', 'itu' bukanlah pekerjaan sederhana dan biasa saja." Kata Keke setengah merenung.
Joon mengangguk. "Bangun pagi - pagi, tidur larut malam. Ketika sedang kesal atau sedih harus tetap tersenyum."
"Tapi gajinya juga bagus."
"Karena itu bukan pekerjaan yang bisa digantikan sembarang orang. Setiap individu memiliki ciri khas dan keunikan masing - masing."
"Bahkan aku tak tahu dan tak bisa menilai kalau disuruh membandingkan Cindy Crawford fan Claudia Schiffer."
Joon menoleh kaget.
Keke mengangkat bahunya. "Mereka cantik dan anggun tapi jujur aku tidak bisa melihat apa yang dilihat para designer."
"Tapi kau kan seorang hairdresser."
"Mungkin masalah selera? Yang jelas kalau mereka berhasil sampai puncak berarti kinerja mereka luar biasa."
Kemudian masalah Cindy Crawford dan Claudia Schiffer tak bisa hilang dari pikiran Keke. 'Saat ini' mungkin tidak apa - apa ia berpikir begitu mengenai dua supermodel tersebut. Namun bila ia berniat terjun di bidang tata kecantikan rambut dan wajah, ia harus bisa melihat kelebihan seseorang sejeli mungkin. Siapa tahu ia juga bekerja sebagai hairdresser profesional yang akan menangani para model sebagai partner kerja designer.
Hanya saja yang jelas baginya setelah bertemu Joon beberapa kali dan mengetahui profesinya sebagai seorang model, ia bisa melihat bahwa Joon seorang model yang berkaraktet kuat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar