Saat ini...tiga bulan kemudian...
Sore hari, bandara Incheon, Korea Selatan.
Pesawat mendarat mulus.
Tapi brrr...udaranya...buatku...
Aku nggak sendiri. Ditemani seorang reporter perempuan, Mbak Nining dan seorang fotografer, mas Darma. Dua orang ini usianya sekitar tiga puluhan, Mas Darma lebih tua mungkin tiga limaan.
"Nerveous nggak?" Tanya mbak Nining.
"Sedikit." Jawabku jujur.
Kopor - kopor sudah diambil tinggal menunggu yang jemput. Kok telat?
Nggak lama aku lihat seorang cowok lari - lari dan langsung mendekati kami. "Mianhaeyo, maaf terlambat. Halo, saya Kim Min Woo. Ada masalah dengan mobil. Tadi waktu berangkat tidak apa - apa. Jadi harus menunggu gantinya dulu." Bahasa Indonesianya lancar tapi logat Korea.
Kalau diperhatikan, dia sipit sih seperti umumnya orang asia timur. Tapi nggak seputih orang Korea umumnya. Masa suka nyawah? Nggak mungkin dong. Eh, mungkin aja tapi dia orang Seoul kan ya? Atau pokoknya tipe outdoor? Tingginya biasa sekitar 170an senti. Badannya juga biasa. Sedikit lebih gemuk dari kurus. Berkacamata.
"Halo, Nining."
"Darma."
"Azalea."
Kami saling bersalaman. Gaya salamannya ala Korea yang tangan kiri megang tangan kanan-kalau dia right-handed-yang sedang menjabat tangan. Namanya juga orang Korea.
Terus kok kenalannya singkat banget? Aneh.
"Lea, dia ini kontributor majalah kita. Dan sekarang jadi guide sekaligus penerjemah kita selama disini." Kata mbak Nining.
"Oh." Aku manggut - manggut. Pantesan.
"Blasteran Indonesia. Baru balik ke Korea setelah lulus SMA." Kata Kim Min Woo. "Kita pergi sekarang?"
"Ya masa besok?" Celetuk Mas Darma.
Kim Min Woo tertawa. Kami mengikuti dia ke parkiran. Wah, persis yang aku lihat di variety show We Got Married. Aku berharap bisa ketemu Song Jae Rim. Orangnya kelihatan seru dan lucu walaupun kadang ngomongnya agak jorok dan blak blakan. Dan dia juga punya kucing. Ekspresinya juga kaya, kadang kelihatan serius yang malah bikin dia jadi lebih tua, kadang imut dan manis banget. Badannya sih nggak macho banget dibanding Choi Siwon atau Namgoong Min tapi imagenya jadi beda karena dia bertato dan punya kucing. Setidaknya itu menurutku pribadi. Bukan berarti aku juga penyuka cowok bertato sih. Kecuali Tuhan menjodohkan aku dengan cowok bertato, nah itu aku nggak bisa ngomong lagi.
Ah, aku juga jadi berharap bisa ketemu Beenzino. Suaranya dalem dan sexy banget. Kalau dengar T.O.P Big Bang berbisik di telinga kita, kita bakal klepek - klepek, kalau Beenzino bisa bikin kita langsung meleleh. AKU MELELEH. Ya maaf, masalah selera nggak bisa diperdebatkan.
Tapi aku jadi tertawa dalam hati. Sekarang jadi banyak maunya. Hahaha...hehehe...hihihi...soalnya yang mau aku temui bukan mereka. Kalau hirarki dalam musik sih idola yang bakal aku temui bisa dibilang senior sih. Sudah debut sejak remaja.
Sampai di parkiran, di mobil, kami langsung memasukkan kopor - kopor ke bagasi dan masuk ke dalam mobil. SUV.
"Oh, saya harus panggil Kim Min Woo ssi apa? Oppa atau apa?" Tanyaku begitu mobil keluar dari parkiran.
"Oppa boleh. Min woo saja juga boleh. Mas Min Woo juga boleh." Katanya sambil tertawa.
Aku melongo. Sementara mas Darma dan mbak Nining nyengir.
"Kan tadi saya sudah bilang kalau blasteran Indonesia juga. Mamaku orang Solo."
Aku manggut - manggut. Jadi itulah dia nggak seputih orang Korea tapi bernama Korea bukan karena kebanyakan nyawah tapi karena blasteran Indonesia Jawa - Korea.
"Kamu masih kuliah ya?" Tanyanya melalui kaca tengah.
Aku dan mbak Nining memang duduk di kursi belakang. Mas Darma yang di depan sebelah dia.
"Iya. Semester enam. Oppa sendiri? Kan kontributor belum tentu sudah lulus kuliah toh?" Oppa? Iyalah, dipanggil Mas kok ya aneh. Abang masih mending. Sudahlah, disesuaikan ajalah sama namanya.
"Sudah lulus dua tahun lalu. Tapi jadi kontributor memang sejak jaman kuliah sih."
"Tidak tertarik audisi juga?" Nah, ngomong sama dia sedikitnya harus pakai bahasa formal. Jadi rada susah nih soalnya jarang pakai. Tapi dianya juga gitu ya harus diseimbangkan dong ya...dan mungkin dia sudah lupa bahasa sehari - hari yang nggak kaku.
Min Woo nyengir lebar. "Pernah sih waktu lulus SMA itu dan baru datang kesini. Dancing. Tapi tidak lolos. Ya sudahlah. Bukan mental pejuang." Dia tertawa. "Lagipula lawannya keren semua. Ingin sih nyoba lagi bukan dancing tapi akting. Kalau nyanyi...kasihan yang dengar suaraku."
Aku ikutan nyengir. "Susah banget ya?"
"Iya." Dia ngangguk.
Aku perhatikan wajahnya...hmm, nggak jelek. Tapi nggak cakep juga sih. Entah di foto apa camera face atau enggak.
"Lha, si Nining ketiduran." Celetuk mas Darma yang dari tadi diam mendengarkan.
Asyik ngobrol nggak perhatiin mbak Nining yang sudah terbang ke awan disebelahku ini.
Setelah berapa lama, kami sampai di Seoul.
Sementara mbak Nining masih tidur. Aku asyik memperhatikan sekitarku. Aku juga nggak ada rasa penasaran tentang jadwal kegiatanku terutama yang berkaitan dengan idola yang bakal aku temui ini. Mungkin aku bukan penggemar beratnya kali ya? Bahkan di saat yang sama aku masih berharap bisa bertemu Song Jae Rim dan Beenzino. Aku gila.
Ya maaf, aku menikmati apa yang aku suka, yang menurutku enak. Susah untuk bikin aku menjadi penggemar berat. Karena...kembali lagi ke masalah selera tadi. Musik itu berkembang dan akan selalu ada yang lain, akan selalu ada yang bagus. Nggak bisa dipaksa untuk suka dan benci kan?
Di seoul, kami menginap di hotel di daerah Itaewon yang dekat masjid dan katanya pusatnya orang asing.
Aku terkikik geli dalam hati, kalau nginap di Gangnam mungkin bisa bikin bangkrut. Mungkin terutama akunya sendiri bakalan bangkrut kalau pengen apa - apa, sudah bahasa nggak ngerti, harga mahal pula. Sama aja sudah jatuh ketimpa tangga.
Kalau daerahnya pusat orang asing, minimal kalau terpaksa beli sesuatu sendirian, mereka bisa bahasa Inggris. Katanya sih orang Seoul nggak segitunya exclusive dan xenophobia atau dalam hal ini bahasa asing. Phobia apa ya namanya? Yah itulah. Mereka yang tinggal di kota besar, Seoul khususnya sudah banyak yang bisa bahasa Inggris walau ala kadarnya, dan generasi mudanya banyak juga yang lancar. Di tambah lagi mungkin banyak tempat frenchisenya restoran asing yang familier ditelingaku.
♪♪♪
Hari pertama itu nggak ada apapun kecuali istirahat. Karena kami sampai di Korea sore, jadi ada waktu istirahat sebentar sebelum makan malam.
Ah, kasur dan kamar yang hangat.
Aku langsung merebahkan diri di kasur. Oh, aku dapat kamar hotel sendiri. Jadi total kami sewa tiga kamar.
Kata Min Woo oppa sih dia akan jemput kami lagi jam setengah delapan. Sekitar satu jam lagi.
Dan satu jam itu cepat ternyata. Apa ini jetlug? Aku masih capek dan ngantuk ketika terpaksa buka mata karena alarm hapeku menjerit gila - gilaan bangunin aku dua puluh menit sebelum jam setengah delapan. Dengan malas kuseret kakiku turun dari kasur. Membuka kopor yang masih tergeletak begitu saja di tengah kamar, ambil handuk dan baju dalam, kuseret lagi kakiku ke kamar mandi.
Ah, untungnya hotel bagus. Kamar mandi bagus. Apalagi di negara empat musim so pasti ada air hangat. Nggak ada bathtub sih, tapi shower dengan air hangat saja sudah surga. Badan jadi segar lagi.
Mandi sepuluh menit. Ganti baju plus dandan lima menit. Lima menit sisanya tinggal menunggu panggilan. Eh, baru saja meletakkan pantat di kursi, pintu kamarku diketuk. Aku buka ternyata mbak Nining.
"Yuk, turun. Min Woo sudah jemput kayaknya."
Aku mengangguk. Menarik tas selempangku yang berharga berisi pasport, dompet dan hape. Ah dan tab. Setelah itu keluar dan karena pintunya otomatis jadi aku tenang. Model yang langsung mengunci sendiri kalau ditutup dari depan, nggak bisa dibuka dari depan kalau nggak pakai kunci dan baru bisa dikunci dari dalam. Masih ada gerendelnya juga di dalam. Kuncinya juga sudah kartu dong.
Dan betul lah Min Woo oppa sudah di lobi.
"Kita makan dimana?" Tanya mas Darma. "Jangan aneh - aneh ya, aku nggak bisa."
Ya otomatis kami tertawa dong.
"Yeee...kita di Korea nikmatin dong." Ejek mbak Nining.
"Tapi aku juga ogah kalau disuruh makan sanakji." Kataku.
"Apaan tuh?" Tanya mas Darma.
"Baby gurita idup." Kataku polos.
Mas Darma dan mbak Nining yang kelihatannya juga nggak tahu langsung mual geli. Sementara Min Woo oppa hanya ketawa.
"Tenang. Percaya saja." Dia meringis.
"Apaan, waktu tugas Andre kesini dulu katanya kamu kerjain. Kapok dekat - dekat kamu." Gerutu mas Darma. Itu sepertinya rekan sekantor.
Min Woo oppa tertawa. "Dianya sendiri yang mau taruhan kok."
Kami keluar dari hotel menuju mobil. Begitu masuk, Min Woo oppa langsung nyalain mesin dan meluncur menuju restoran tempat kami makan malam.
Sepertinya agak jauh juga dari hotel.
"Beneran ya jangan yang aneh - aneh!" Ancam mas Darma.
Min Woo oppa kembali tertawa. "Tidak kok. Janji. Kita makan kimchi pastinya sama japchae dan dak yangnyeom."
"Japchae? Asyik..." Mas darma nyengir lebar dengar kata japchae.
Akhirnya sampai juga di restoran. Tempatnya sih nggak berbau tradisional. Biasa aja. Bangunan tembok dan pintu kaca. Tempatnya juga nggak terlalu rame. Cukup nyaman juga.
Dalam bahasa Korea, Min Woo oppa pesan menu makan malam kami. Pelayannya masih muda. Sekitar umurku. Bukan ahjumma atau ahjussi yang seperti di drama - drama itu.
"Makanannya beneran nggak aneh kan?" Tanya mas Darma memastikan lagi.
Min Woo oppa lagi - lagi hanya ketawa melihat mas Darma yang jadi mirip orang fobia makanan.
Aku sebetulnya agak kuatir juga sih. Kalau dilihat dari yang aku baca sih, masih mending makanan Jepang. Pokoknya jangan yang mentah. Tapi kan tak kenal maka tak sayang juga. Ah, yang pasti bakal pedas ini. Walaupun aku orang Indonesia turunan Jawa yang punya menu sambal, tetap saja kalau nggak doyan pedas ya nggak doyan saja. Kadang Mama suka jahilin aku gara - gara itu. Katanya cabe adalah pengundang selera makan.
"Kamsahamnida." Kataku ketika akhirnya makan malam datang.
Tapi reaksi mas Darma malah melongo.
"Lho katanya pesan japchae. Kamu bohong ya? Mana hayo japchaenya?" Tanyanya bingung setengah keki.
"Itu kan japchae." Min Woo oppa yang sudah ambil sumpit menunjuk pada semacam bihun goreng dengan sumpitnya.
"Itu kan bihun." Kata mas Darma.
"Lha, kan japchaenya orang korea emang bihun goreng." Kataku. "Kirain mas Darma udah tahu."
"Enggak tuh." Mas Darma menggeleng. "Gitu ya? Yah, nggak apa - apalah yang penting nggak aneh."
Tapi karena dia fotografer, selama makan masih tetep foto - foto. Dokumentasi. Di setiap tempat dan kesempatan tak lupa untuk foto.
Mas Darma dan aku sama. Ketika incipin kimchi, kami hanya bisa nyobain dikit. Kalau mas Darma merasa rasanya agak aneh buat lidahnya yang itu tadi nggak terbiasa makanan asing, kalau aku lebih pada...pedas! Nggak kuat.
Sepertinya makanan yang bisa kunikmati dengan bahagia hanya japchae. Dak yangnyeom kelihatannya enak tapi pedas juga. Ini sih favorit mama yang doyan pedas.
Setelah makan malam, kami diajak Min Woo oppa keliling kota. Melihat Seoul di malam hari. Termasuk mampir ke daerah Myeong-dong.
Aku sempatkan sedikit belanja oleh - oleh ketika diajak masuk ke toko yang menjual beberapa merchandise yang berhubungan dengan segala hal berbau bintang idola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar