Rabu, 04 Oktober 2017

Aku Yang Sekarang

Sejak beberapa bulan terakhir di tahun 2015 tiba-tiba aku ingin mengurangi beberapa lemak di badan kalau nggak bisa menghilangkannya sama sekali.
Oh, salah satu alasanku nggak mau diet adalah...juga karena (bahasanya muter-muter) bentuk badanku yang pear shape body type. Jadi, diet juga percuma karena yang kurus cuma bagian perut ke atas. Perut ke bawah hampir nggak ada perubahan.
Terus, kok tiba-tiba ingin kurus? Mengurangi lemak? Alasan! Bilang aja pengen kurus.
No!
Alasannya, sebetulnya dari dulu banget tapi karena yah, di tulisanku sebelumnya aku sudah bilang kan kalau malas olahraga, jadilah beberapa bagian tubuhku kendor. Aku pengen sedikit mengencangkan dan mengurangi lemak di beberapa area tubuhku.
Akhirnya aku bertekad kuat untuk olahraga.
Cukup 30 menit setiap hari. Tapi seminggu 3-4 kali juga cukup kok. Dan olahragaku juga hanya melatih bagian yang kurasa kendor biar kencang.
Pemanasan. 2 inti gerakan. Pendinginan. Sudah.
Cuma sebentar tanpa alat pula tapi sangat menguras keringat. Cukup efektif. Dan terlihat hasilnya. Tapi KONDISI BADAN SETIAP ORANG BERBEDA. Aku termasuk burning fat-nya cepat ternyata. Aku baru tahu.



Aku & Sakitku

Sekitar 9 tahun yang lalu aku sakit. Tekanan darahku jauh di bawah normal. Dokter bilang beratku sudah sampai 39kg. APA?! Kok bisa?
Tinggi 150cm dengan berat 39kg. Bayangkan?
Aku sakit karena hal lain. No diet. No lower weight program. Nothing. Sudah beberapa tahun dari terakhir coba-coba diet, aku sudah enggak melakukannya lagi.
Alasannya masih sama.
Malas olahraga.
Makanan masih enak, sayang kalau enggak dimakan.
Tapi tiba-tiba tekanan darahku turun drastis. Aku jadi sering pingsan.
Karena berat badanku kurang bahkan di bawah normal, aku diberi vitamin penambah nafsu makan. Disarankan minum susu tertentu (yang penasaran bisa kirim pesan pribadi karena aku nggak mau sebut merek disini. Maaf) juga untuk menambah nafsu makan yang akhirnya menambah berat badan. Minum susu yang disarankan dokter itu, dalam sekitar 3 bulan aja beratku sudah kembali normal sampai akhir-akhir ini.
Itu adalah hal lain. Masalahnya, di saat aku sakit tiba-tiba itu aku KETAKUTAN sendiri. Lagi-lagi, di otakku seperti ada yang bisikin aku nggak boleh makan. KENAPA? Semua gara-gara SUSU itu. Aku takut beratku terus naik. Aku takut jadi gemuk.
Aku langsung kehilangan nafsu makan. TAPI aku terus MEMAKSA diriku tetap makan atau sakitku tambah parah. Aku nggak suka rumah sakit dan benci rumah sakit. Aku nggak mau sampai rumah sakit.
Tapi dalam kepalaku terus menolak. Akhirnya, karena aku takut benar-benar menderita anoreksia walaupun sedikitnya ada gejala ke arah situ bahkan sampai karang, aku menghubungi temanku @CelineAninie.
Saat itu hampir tengah malam dan dengan sabar @CelineAninie dengerin ceritaku, tetap kasih aku semangat dan mengingatkanku bahwa aku harus bisa menang lawan anoreksia. Jangan sampai kalah.
Mungkin dia sudah lupa kejadian ini, tapi aku nggak mungkin lupa. Kata terima kasih aja nggak akan cukup.
Dan salah satu pencegah penyakit gangguan pola makan salah salah satunya adalah terbuka kepada orang-orang terdekat. Orangtua atau sahabat. Sehingg mereka bisa support dan mengawasi kita agar nggak kalah lawan penyakit itu.
Karena kalau enggak, maut siap menjemput kapan aja.
*PS: susu yang aku minum nggak bersalah. Malah sekarang aku pengen minum lagi. Susu yang bukan sekedar iklan. Paling tidak buat aku. Dan dalam buku Wasted: A Memoir of Anorexia, aku sempat baca ada susu itu disebutkan.

Kisah Seorang Teman bag.2

Yang ini tentang teman yang lain lagi. Usianya di bawahku. dia disuruh diet sama sang ibu....tapi kupikir bukan diet yang baik. betapa tidak, siang hari nggak boleh makan tapi malah boleh jajan. bakso...pentol...dll. dia juga setiap pagi nggak pernah sarapan....

Kisah Seorang Teman bag.1

Temanku ini punya kakak perempuan. Ketika SMP berat badannya masuk kategori over alias gemuk.
Maduk SMA si kakak terobsesi untuk menguruskan berat badan dengan sangat ekstrim dan terus berlanjut sampai dia lulus SMA.
Akhirnya turun? Jadi kurus? YA! Tapi disertai penyakit susulan. Dia jadi sering pingsan. Tekanan darahnya drop.
Kok bisa kurus?
Si kakak mengurangi makan dengan ekstrim. Sehari hanya sekali. Itu kadang belum cukup. Setiap makan baginya cukup satu atau dua sendok.
Bahkan ketika sudah bekerja si kakak masih makan sedikit sekali. Menolak bawa bekal. Hasilnya? Sering pingsan di tempat kerja.
Keluarga bilang dia punya penyakit terobsesi diet. Terlalu ingin kurus. Takut gemuk.
Ketika semua orang bilang dirinya sudah cukup kurus nggak sampai kering kerontang sih, dia nggak percaya.
Buatku yang awam ini, si kakak itu sudah termasuk kategori menderita ANOREKSIA.

Aku Ingin Kurus

Ketika remaja aku juga sama saja suka iri lihat artis di TV yang punya badan bagus, bisa pakai baju apa saja.
Ada kalanya juga aku mengurangi berat badan.
Untungnya karena pernah baca di salah satu buku tentang kisah seorang gadis yang menderita anoreksia dan itu pertama kalinya aku tahu tentang anoreksia, aku masih hati-hati ketika mengurangi makanku.
1. Alasan pertama, nggak bisa jauh dari makanan.
2. Alasan kedua, makanan itu enak, sayang kalau nggak dimakan.
3. Alasan ketiga, diet itu menyiksa.
4. Alasan keempat, malas olahraga.
Itu semua secara nggak sadar menguntungkanku.
Jadi, ketika aku menurunkan berat badan biar kurus, aku masih pikir-pikir dulu.
Waktu aku remaja dengan tinggi 150cm, beratku mungkin sekitar 47-50kg.
Perlahan beratku memang berkurang tapi pelan-pelan, butuh waktu.
Kok bisa? Aku mengurangi nasi. Makan masakan tanpa msg. Banyak makan sayur. Hampir nggak pernah makan daging. Minum teh hijau. TAPI dan TAPI, tolong jangan ditiru mentah-mentah bagi kalian yang membaca ini. Karena KONDISI BADAN SETIAP ORANG BERBEDA.
Aku tetap makan 3x sehari.
Dan butuh 2-3 tahun untuk bisa mengurangi dari berat 47-50kg ke 44-45kg.
Bertahun-tahun setelah itu beratku tetap berkisar 45kg.

Sering Nggak Sadar

Sering nggak sadar disini bukan pingsan. Walaupun pasti akan ke arah sana dan suka pingsan kalau berat badan di bawah normal karena kurang gizi.
Sering nggak sadar disini artinya, kebanyakan penderita gangguan pola makan sering nggak sadar kalau dirinya sakit. Mereka selalu merasa baik-baik saja.
Apapun kata orang bahkan orangtuanya sendiri nggak akan dipercaya.
Hanya sedikit sekali yang berani jujur dan sadar bahwa mereka sedang sakit.

Penyakit Kejiwaan 2

Seperti yang aku bilang sebelumnya. Penderita gangguan pola makan selalu terlalu peduli pada bentuk tubuh. Terlalu peduli pada berat tubuh.
Naik 1 ons pun mereka akan ketakutan.
Selalu kurang kurus.
Selalu merasa gemuk.
Berapapun nggak akan pernah cukup.
Ketika di rumah punya timbangan sendiri, pasti akan sering atau malah setiap hari menimbang berat badannya.
Dan kalau sudah parah biasanya nyaris menjadi anti-sosial karena merasa dirinya terlalu gemuk padahal kenyataannya malah seperti tengkorak hidup.

Penyakit Kejiwaan

Penyakit kejiwaan? Ya, memang.
Setiap gerak - gerik kita berasal dari perintah otak kita kan?
Tapi sebuah keinginan itu berasal dari hati? Perasaan? Ya, memang.
Tapi kembali lagi, selama otak kita hidup, setiap gerak kita perintahnya dari otak.
Begitu juga dengan gangguan pola makan.
Coba kalau kita mengalihkan semangat dan obsesi untuk menjadi kurus ke arah yang lebih positif, hasilnya pasti positif.
Kalau kita bisa nge-rem keinginan kuat untuk diet berlebihan atau keranjingan olahraga hanya demi kurus, kupikir nggak akan ada gangguan pola makan.

Demi Sehat

Seharusnya kita menurunkan berat badan syukur-syukur bisa ke ukuran ideal (tapi kan NGGAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA) itu bukan demi gengsi. Bukan demi kurus. Tapi demi sehat.
Diet. Oke, kita diet tapi nggak ngawur. Dan itu demi sehat.
Olahraga. Oke, kita olahraga tapi juga nggak ngawur dan terus-terusan. Kasihan badan kita. Jadi demi sehat juga.

Diet & Olahraga

Penderita gangguan pola makan yang paling umum aku lihat bahkan mungkin aku sendiri lebih ke kategori anoreksia.
Karena selalu takut gemuk atau terobsesi badan kurus seorang artis/model tertentu lalu ingin meniru, maka kata pertama dalam agenda adalah DIET. Karena awam, diet yang dilakukan kebanyakan ngawur tanpa konsultasi ke dokter atau ahli gizi.
Dalam diet ala awam ini biasanya membuat alibi berpuasa, mengurangi makan secara ekstrim atau malah nggak makan.
Kalau itu belum cukup, masih dibarengi olahraga. Olahraga yang dilakukan juga nggak kira-kira. Dari yang malas olahraga, tiba-tiba berubah jadi keranjingan olahraga.
Tujuannya hanya satu. Demi KURUS. Untuk KURUS. Biar KURUS.
Kurus. Kurus. Kurus. Kurus. Kurus. Dan kurus.

Eating disorder atau kadang disebut Binge eating disorder adalah pola makan dimana penderita terus - terusan makan, kadang nggak terkontrol dan impulsif. Karena mereka nggak memuntahkan lagi makanannya, akibatnya mereka merasa bersalah karena sudah makan, kemudian untuk menebusnya melakukan diet atau olahraga ekstrim. Suka cemas dan depresi.
Bulimia nervosa.
Seorang bulimic, sebutan untuk penderita ini kebalikan dari binge eating disorder, dimana justru mereka banyak makan lebih daripada seharusnya kemudian memuntahkannya lagi dengan cara apapun.
Anoreksia nervosa.
Seorang anorexic, sebutan untuk penderita ini kebalikan dari bulimic dimana mereka justru menolak makan. Menolak lapar.
Tapi intinya semua sama. Mereka terlalu peduli dengan berat badan. Selalu merasa gemuk bahkan terlalu gemuk dan untuk mengurangi berat badan biasanya melakukan diet ketat atau malah ngawur dan olahraga ekstrim dalam artian terus menerus atau terobsesi dengan olahraga.
*Dari berbagai sumber*

Cantik vs Kurus

Yang aku dengar fashion dunia sudah mulai berubah demi mengurangi model yang menderita anoreksia. Di beberapa negara melarang desain berukuran nol. Yah, banyak orang awam yang nggak tahu kalau model profesional ukurannya nol. Aku aja untuk atasan sekitar 8 dan bawahan sekitar 10 (menggunakan ukuran UK/Inggris) dengan tinggi 150cm.
Sebelum J-Lo, Beyonce atau Kardashian bersaudara ngetop, banyak yang bilang badan ideal itu kurus. Kurus itu cantik. Yah, memang sih kalau kurus cenderung gampang pakai baju apa aja. Tapi kurus yang gimana dulu?
Akhirnya banyak yang terobsesi untuk menguruskan badan bahkan secara ekstrim.
Tapi yah memang overweight kurang indah dipandang dan susah cari baju. Tapi jangan tukar kesehatan dengan penyakit. Terlalu kurus tambah jelek dilihat mata.
Sehat yang paling penting!!!

AKU INGIN KURUS

EATING DISORDER "Penyakit Gangguan Pola Makan"
 
 
  Catatan random tentang gangguan pola makan yang sering tidak kita sadari, terutama para perempuan. Kita harus waspada karena bisa berujung pada kematian
 
  Sedikit berbagi pengalamanku dan apa yang kulihat di sekitar. Semoga bermanfaat.

Penundaan Lanjutan Kehara & Joon

Hai, semua apa kabar?
maaf, untuk sementara cerita Kehara & Joon ditunda dulu lanjutannya.
Terima kasih :)