Rabu, 04 Oktober 2017

Aku & Sakitku

Sekitar 9 tahun yang lalu aku sakit. Tekanan darahku jauh di bawah normal. Dokter bilang beratku sudah sampai 39kg. APA?! Kok bisa?
Tinggi 150cm dengan berat 39kg. Bayangkan?
Aku sakit karena hal lain. No diet. No lower weight program. Nothing. Sudah beberapa tahun dari terakhir coba-coba diet, aku sudah enggak melakukannya lagi.
Alasannya masih sama.
Malas olahraga.
Makanan masih enak, sayang kalau enggak dimakan.
Tapi tiba-tiba tekanan darahku turun drastis. Aku jadi sering pingsan.
Karena berat badanku kurang bahkan di bawah normal, aku diberi vitamin penambah nafsu makan. Disarankan minum susu tertentu (yang penasaran bisa kirim pesan pribadi karena aku nggak mau sebut merek disini. Maaf) juga untuk menambah nafsu makan yang akhirnya menambah berat badan. Minum susu yang disarankan dokter itu, dalam sekitar 3 bulan aja beratku sudah kembali normal sampai akhir-akhir ini.
Itu adalah hal lain. Masalahnya, di saat aku sakit tiba-tiba itu aku KETAKUTAN sendiri. Lagi-lagi, di otakku seperti ada yang bisikin aku nggak boleh makan. KENAPA? Semua gara-gara SUSU itu. Aku takut beratku terus naik. Aku takut jadi gemuk.
Aku langsung kehilangan nafsu makan. TAPI aku terus MEMAKSA diriku tetap makan atau sakitku tambah parah. Aku nggak suka rumah sakit dan benci rumah sakit. Aku nggak mau sampai rumah sakit.
Tapi dalam kepalaku terus menolak. Akhirnya, karena aku takut benar-benar menderita anoreksia walaupun sedikitnya ada gejala ke arah situ bahkan sampai karang, aku menghubungi temanku @CelineAninie.
Saat itu hampir tengah malam dan dengan sabar @CelineAninie dengerin ceritaku, tetap kasih aku semangat dan mengingatkanku bahwa aku harus bisa menang lawan anoreksia. Jangan sampai kalah.
Mungkin dia sudah lupa kejadian ini, tapi aku nggak mungkin lupa. Kata terima kasih aja nggak akan cukup.
Dan salah satu pencegah penyakit gangguan pola makan salah salah satunya adalah terbuka kepada orang-orang terdekat. Orangtua atau sahabat. Sehingg mereka bisa support dan mengawasi kita agar nggak kalah lawan penyakit itu.
Karena kalau enggak, maut siap menjemput kapan aja.
*PS: susu yang aku minum nggak bersalah. Malah sekarang aku pengen minum lagi. Susu yang bukan sekedar iklan. Paling tidak buat aku. Dan dalam buku Wasted: A Memoir of Anorexia, aku sempat baca ada susu itu disebutkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar