Sekitar 9 tahun yang
lalu aku sakit. Tekanan darahku jauh di bawah normal. Dokter bilang
beratku sudah sampai 39kg. APA?! Kok bisa?
Tinggi 150cm dengan berat 39kg. Bayangkan?
Aku sakit karena hal
lain. No diet. No lower weight program. Nothing. Sudah beberapa tahun
dari terakhir coba-coba diet, aku sudah enggak melakukannya lagi.
Alasannya masih sama.
Malas olahraga.
Makanan masih enak, sayang kalau enggak dimakan.
Malas olahraga.
Makanan masih enak, sayang kalau enggak dimakan.
Tapi tiba-tiba tekanan darahku turun drastis. Aku jadi sering pingsan.
Karena berat badanku
kurang bahkan di bawah normal, aku diberi vitamin penambah nafsu makan.
Disarankan minum susu tertentu (yang penasaran bisa kirim pesan pribadi
karena aku nggak mau sebut merek disini. Maaf) juga untuk menambah nafsu
makan yang akhirnya menambah berat badan. Minum susu yang disarankan
dokter itu, dalam sekitar 3 bulan aja beratku sudah kembali normal
sampai akhir-akhir ini.
Itu adalah hal lain.
Masalahnya, di saat aku sakit tiba-tiba itu aku KETAKUTAN sendiri.
Lagi-lagi, di otakku seperti ada yang bisikin aku nggak boleh makan.
KENAPA? Semua gara-gara SUSU itu. Aku takut beratku terus naik. Aku
takut jadi gemuk.
Aku langsung kehilangan
nafsu makan. TAPI aku terus MEMAKSA diriku tetap makan atau sakitku
tambah parah. Aku nggak suka rumah sakit dan benci rumah sakit. Aku
nggak mau sampai rumah sakit.
Tapi dalam kepalaku
terus menolak. Akhirnya, karena aku takut benar-benar menderita
anoreksia walaupun sedikitnya ada gejala ke arah situ bahkan sampai
karang, aku menghubungi temanku @CelineAninie.
Saat itu hampir tengah
malam dan dengan sabar @CelineAninie dengerin ceritaku, tetap kasih aku
semangat dan mengingatkanku bahwa aku harus bisa menang lawan anoreksia.
Jangan sampai kalah.
Mungkin dia sudah lupa kejadian ini, tapi aku nggak mungkin lupa. Kata terima kasih aja nggak akan cukup.
Dan salah satu pencegah
penyakit gangguan pola makan salah salah satunya adalah terbuka kepada
orang-orang terdekat. Orangtua atau sahabat. Sehingg mereka bisa support
dan mengawasi kita agar nggak kalah lawan penyakit itu.
Karena kalau enggak, maut siap menjemput kapan aja.
*PS: susu yang aku minum
nggak bersalah. Malah sekarang aku pengen minum lagi. Susu yang bukan
sekedar iklan. Paling tidak buat aku. Dan dalam buku Wasted: A Memoir of
Anorexia, aku sempat baca ada susu itu disebutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar